Saat matahari mulai bersinar, kesibukan warga Kampung Jlamprang Kecamatan Wonosobo sudah mulai tampak. Dari suara benturan besi yang terdengar di sentra perajin teralis itu sebagai pertanda bahwa semangat hidup warga sekitar telah dimulai.
Dari membuat kerajinan itulah mereka menambatkan harapan untuk menyukupi kebutuhan hidup keluarga yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Begitu pun di sebuah rumah kecil di ujung kelurahan tersebut, sudah terlihat kesibukan kecil. Ya, di rumah sederhana itu, Slamet Riyanto sibuk membuat kerajinan pande besi. Namun apa yang dilakukan bapak tiga anak itu lain dari kebanyakan orang. Ada sesuatu yang istimewa yang jarang dimiliki orang, yakni tentang semangat perjuangan hidup di bawah keterbatasan yang ia miliki. Slamet adalah seorang perajin pande besi yang memiliki keterbatasan indera penglihatan. Namun, memiliki keterbatasan indera penglihatan tidak membuat Slamet Riyanto putus harapan untuk bisa menjalani hidup sebagaimana mestinya. Meski kedua matanya buta, ia terus bersemangat untuk berkarya demi membesarkan dan menyekolahkan buah hatinya.
Dia rela bergelut dengan api dan bara besi untuk membuat kerajinan pande besi. Sebuah pekerjaan yang tentu susah untuk dilakukan dengan keterbatasan pada indera penglihat. Saat Suara Merdeka berkunjung ke rumahnya, dia menuturkan, bahwa hidup harus terus berjalan meskipun dengan segala keterbatasan.
‘’Tuhan itu Maha Pemurah, asal kita mau berusaha dan bekerja keras’’ tuturnya. Sulit dibayangkan memang, seorang yang memiliki keterbatasan indera penglihatan setiap hari harus bergelut dengan api. Tetapi faktanya, Slamet mampu menjalani pekerjaannya dengan baik dan nyaris tak pernah terjadi kecelakaan. (Rinto Hariyadi-28,47)
Sumber: Suara Merdeka
Dari membuat kerajinan itulah mereka menambatkan harapan untuk menyukupi kebutuhan hidup keluarga yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Begitu pun di sebuah rumah kecil di ujung kelurahan tersebut, sudah terlihat kesibukan kecil. Ya, di rumah sederhana itu, Slamet Riyanto sibuk membuat kerajinan pande besi. Namun apa yang dilakukan bapak tiga anak itu lain dari kebanyakan orang. Ada sesuatu yang istimewa yang jarang dimiliki orang, yakni tentang semangat perjuangan hidup di bawah keterbatasan yang ia miliki. Slamet adalah seorang perajin pande besi yang memiliki keterbatasan indera penglihatan. Namun, memiliki keterbatasan indera penglihatan tidak membuat Slamet Riyanto putus harapan untuk bisa menjalani hidup sebagaimana mestinya. Meski kedua matanya buta, ia terus bersemangat untuk berkarya demi membesarkan dan menyekolahkan buah hatinya.
Dia rela bergelut dengan api dan bara besi untuk membuat kerajinan pande besi. Sebuah pekerjaan yang tentu susah untuk dilakukan dengan keterbatasan pada indera penglihat. Saat Suara Merdeka berkunjung ke rumahnya, dia menuturkan, bahwa hidup harus terus berjalan meskipun dengan segala keterbatasan.
‘’Tuhan itu Maha Pemurah, asal kita mau berusaha dan bekerja keras’’ tuturnya. Sulit dibayangkan memang, seorang yang memiliki keterbatasan indera penglihatan setiap hari harus bergelut dengan api. Tetapi faktanya, Slamet mampu menjalani pekerjaannya dengan baik dan nyaris tak pernah terjadi kecelakaan. (Rinto Hariyadi-28,47)
Sumber: Suara Merdeka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar